Nilai tukar rupiah kembali melemah tipis 0,1% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.700/US$ pada perdagangan Kamis kemarin.

Meski tipis, rupiah akhirnya membukukan pelemahan 4 hari beruntun, alias tidak sekalipun menguat di pekan ini. Total pelemahan selama periode tersebut sebesar 0,82%.

Dalam 2 hari terakhir indeks dolar AS kembali melemah, tetapi rupiah tidak mampu menguat. Hal tersebut menunjukkan rupiah sedang mengalami tekanan internal.

Tekanan rupiah semakin besar setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi Jakarta kembali diperpanjang, Mata Uang Garuda berisiko terkapar lagi pada hari ini, Jumat (14/8/2020).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memperpanjang PSBB Transisi selama 14 hari ke depan hingga 27 Agustus mendatang.

“Dengan mempertimbangkan segala kondisi, setelah kami berkonsultasi dengan pakar kesehatan khususnya epidemiolog, dan berkoordinasi dengan jajaran Forkopimda pada sore tadi, kami memutuskan untuk kembali memperpanjang PSBB Masa Transisi di fase pertama ini untuk keempat kalinya hingga tanggal 27 Agustus 2020,” ujar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam pernyataannya, Kamis (13/8).

Dengan diperpanjangnya PSBB, artinya selama 2 bulan di kuartal III-2020 roda bisnis masih berputar pelan.

Laju pemulihan ekonomi saat PSBB menjadi lambat setelah mengalami kontraksi 5,32% year-on-year (YoY) di kuartal II-2020, sehingga risiko resesi meningkat seperti yang diramal oleh Bank Dunia dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juli 2020, dengan judul The Long Road to Recovery.

Lembaga yang berkantor pusat di Washington DC (Amerika Serikat) itu memperkirakan ekonomi Indonesia tidak tumbuh alias 0%. Namun Bank Dunia punya skenario kedua, yaitu ekonomi Indonesia mengalami kontraksi -2% pada 2020 jika resesi global ternyata lebih dalam dan pembatasan sosial (social distancing) domestik lebih ketat.

“Ekonomi Indonesia bisa saja memasuki resesi jika pembatasan sosial berlanjut pada kuartal III-2020 dan kuartal IV-2020 dan/atau resesi ekonomi dunia lebih parah dari perkiraan sebelumnya,” tulis laporan Bank Dunia.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan sektor-sektor penopang perekonomian yang pada kuartal II ini ikut terkontraksi dalam akan sulit pulih dengan mudah. Oleh karenanya, jika upaya pemerintah tidak maksimal maka Indonesia bisa masuk ke jurang resesi.

“Memang probabilitas negatif (di kuartal III) masih ada karena penurunan sektor tidak bisa secara cepat pulih,” ujarnya melalui konferensi pers virtual, Rabu (5/8/2020).

Jika di kuartal III nanti pertumbuhan ekonomi negatif lagi, maka Indonesia sah mengalami resesi.

Secara teknikal, meski rupiah yang disimbolkan USD/IDR sudah dekat dengan batas atas fase konsolidasi Rp 14.730/US$. Fase konsolidasi artinya suatu instrument bolak balik naik turun dalam rentang tertentu. Pada satu titik fase ini akan memicu “ledakan” alias pergerakan besar.

Posisi penutupan rupiah pada perdagangan Senin (27/7/2020) tidak jauh dari posisi pembukaan perdagangan, serta pergerakan naik turun hari ini secara teknikal membentuk pola Doji jika dilihat menggunakan grafik Candlestick.

Suatu harga dikatakan membentuk pola Doji ketika level pembukaan dan penutupan perdagangan sama atau nyaris sama persis, setelah sebelumnya mengalami pergerakan naik dan turun dari level pembukaan tersebut.

Secara psikologis, pola Doji menunjukkan pelaku pasar masih ragu-ragu menentukan arah pasar apakah akan menguat atau melemah. Sehingga ketika batas atas atau batas bawah berhasil dilewati, akan memberikan keyakinan bagi pelaku pasar untuk mengambil posisi.

Dalam kasus USD/IDR, batas atas seperti yang disebutkan sebelumnya berada di level US$ 14.730/US$ yang merupakan Fibonnaci Retracement 61,8%. Fibonnaci Retracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13.565/US$) lalu, hingga ke posisi tertinggi intraday 23 Maret (Rp 16.620/US$).

Sementara batas bawah fase konsolidasi berada di level Rp 14.325/US$.

Jarak antara batas bawah hingga ke batas atas sebesar Rp 405, artinya target pergerakan rupiah setelah menembus salah satu batas sebesar Rp 405. Seandaianya batas atas yang dilewati, maka rupiah berisiko melemah ke Rp 15.135/US$, sebaliknya jika batas bawah yang ditembus maka rupiah berpotensi menguat ke Rp 13.920/US$.

Posisi rupiah kini sudah dekat dengan batas atas Rp 14.730/US$ sehingga risiko bablas melemah tajam cukup tinggi.

Untuk hari ini, support terdekat berada di kisaran Rp 14.660/US$, selama tertahan di atasnya rupiah berisiko melemah ke Rp 14.730/US$. Seperti disebutkan sebelumnya, jika level tersebut dilewati, rupiah berisiko melemah tajam.

Rupiah memiliki peluang untuk bangkit jika mampu menembus support tersebut dengan target ke Rp 14.630 hingga 14.600/US$.

Sumber: CNBCIndonesia