Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menegaskan Sumpah Pemuda adalah titik awal dari realisasi konsep wawasan kebangsaan. Ia pun mengajak kaum milenial untuk melakukan introspeksi diri di momen sumpah pemuda kali ini.

Ketua DPR RI ke-20 ini pun memberikan beberapa pertanyaan untuk dijadikan bahan introspeksi, yaitu apakah Sumpah Pemuda hanya akan menjadi memori kolektif bangsa yang dikenang setiap tahun? Atau menjadikannya sebagai warisan kebangsaan yang akan selalu kita hidupkan dalam keseharian?.

“Mungkin ini pertanyaan retoris. Namun, penting kita tanyakan ke dalam diri masing-masing. Di tangan kalian sebagai generasi muda bangsa, pertanyaan retoris ini saya titipkan sebagai bahan perenungan,” kata Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (29/10/2020).

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Free Training Online ESQ Leadership Center, ‘Sumpah Pemuda, Pancasila Untuk Milenial’ bersama Ary Ginandjar Agustian, secara virtual dari Bali, Rabu (28/10/20). Ikut serta dalam pelatihan ESQ virtual ini sekitar 4.000 siswa SMA, SMK serta mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia.

Bamsoet pun melanjutkan ikrar sumpah pemuda dirumuskan sebagai landasan pergerakan kebangsaan hingga terwujudnya cita-cita Indonesia merdeka. Untuk itu, Bamsoet berpesan setelah 92 tahun saatnya kaum milenial meneruskan semangat Sumpah Pemuda dengan mempersiapkan diri sebagai pemimpin.

“Sekarang banyak orang penting. Namun, 10 atau 20 tahun mendatang mereka bukan lagi orang penting. Kalian lah yang akan menggantikan mereka menjadi orang penting,” ujar Bamsoet.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia ini memaparkan sebuah survei yang dilakukan oleh Komunitas Pancasila Muda pada akhir Mei 2020 kepada kaum muda di 34 provinsi. Hasilnya ada 61 persen responden yang merasa yakin dan setuju nilai Pancasila sangat penting dan relevan dengan kehidupan mereka.

Sementara, 19,5 persen bersikap netral, dan 19,5 persen lainnya menganggap Pancasila hanya sekedar nama yang tidak dipahami maknanya. Ia juga memaparkan survei dari CSIS yang mencatat ada sekitar 10 persen generasi milenial yang setuju mengganti Pancasila.

“Sebelumnya, survei LSI Tahun 2018 juga mencatat bahwa dalam kurun waktu 13 tahun masyarakat yang pro terhadap Pancasila telah mengalami penurunan sekitar 10 persen, dari 85,2 persen pada tahun 2005 menjadi 75,3 persen pada tahun 2018,” papar Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini pun menilai masih adanya sikap generasi muda yang tidak sejalan dengan Pancasila, menunjukkan masih ada pekerjaan rumah bagi semua elemen bangsa untuk mengupayakan agar Pancasila lebih dapat diterima generasi muda salah satunya yaitu menerjemahkannya ke dalam dunia anak muda.

“Ada beberapa metode yang telah saya gunakan. Misalnya, melalui platform sosial media seperti Youtube Bamsoet Channel. Di satu sisi, metode ini dapat mendekatkan Pancasila dalam kehidupan keseharian generasi muda. Di sisi lain, masuknya konten-konten yang menghadirkan nilai Pancasila dapat menjadi penyeimbang atas masifnya konten dari platform lain yang lebih banyak mengabaikan nilai-nilai kearifan lokal dan jati diri bangsa,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan, di antara sebagian kecil generasi muda yang mempunyai sikap tidak sejalan dengan Pancasila, mereka termasuk generasi muda terpelajar atau berprestasi secara akademik. Kondisi ini sedikit banyak menggambarkan masih ada celah pada sistem pendidikan, terutama pada aspek pendidikan karakter.

Ia pun mendukung gagasan pelatihan ESQ yang mengingatkan membangun sumberdaya manusia, kecerdasan intelektual (intelligence quotient) saja tidak cukup. Tetapi, harus dilengkapi dengan kecerdasan emosional (emotional quotient) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient).

“Akan jauh lebih menarik jika dalam berbagai pelatihan yang dilakukan, ESQ Leadership Center turut memasukan materi kebangsaan. Sehingga para peserta training juga memiliki national quotient,” pungkas Bamsoet.