Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengingatkan saat ini Indonesia tengah menyongsong periode bonus demografi. Sebab, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 jumlah pemuda Indonesia mencapai 64,19 juta jiwa.

Hal itu disampaikan Bamsoet dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Pimpinan Nasional Perkumpulan Pemuda Indonesia secara virtual dari Bali, Rabu (28/10). Kegiatan tersebut diikuti Ketua Nasional Perkumpulan Pemuda Indonesia Natalis Situmorang, Ketua Nasional Perkumpulan Pemuda Indonesia Angga Busra Lesmana, pengurus Perkumpulan Pemuda Indonesia dan Panitia Pekan Pemuda Nasional.

“Yang menjadi tantangan adalah, apakah bonus demografi ini nantinya akan dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan pembangunan, atau malah menjadi kemubaziran, bahkan menjadi beban. Nilai kemanfaatan bonus demografi hanya dapat dioptimalkan apabila terpenuhi dua prasyarat. Pertama, jumlah usia produktif tersebut adalah SDM yang berkualitas. Kedua, adanya ketersediaan lapangan pekerjaan yang memadai dan mampu menyerap tenaga kerja yang berlimpah,” papar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (29/10/2020).

Ketua DPR RI ke-20 ini mengungkapkan Korea Selatan, Tiongkok dan Jepang adalah negara-negara yang sukses melalui fase bonus demografi dan dapat dijadikan cerminan bagi Indonesia. Korea Selatan mengarahkan industri rumah tangganya membuat komponen handphone, Tiongkok mengarahkan industri rumahan memproduksi komponen elektronik, sedangkan Jepang mengoptimalkan kinerja penduduk usia produktif sehingga tingkat penganggurannya sangat kecil, kurang dari 3 persen.

Di sisi lain, Bamsoet mengingatkan tidak semua negara bisa sukses memanfaatkan fase bonus demografi. Brazil dan Afrika Selatan misalnya. Keterpurukan ekonomi menyebabkan Brazil gagal mempersiapkan diri menyongsong bonus demografi, karena alokasi sumber daya negara banyak tergerus untuk menyediakan jaring pengaman sosial dan pensiun. Sementara itu, akses pendidikan yang berkualitas, infrastruktur, dan penyediaan lapangan pekerjaan kurang mendapatkan prioritas.

“Sedangkan kegagalan Afrika Selatan memanfaatkan bonus demografi disebabkan kurangnya perhatian pada kualitas pendidikan dan rendahnya tingkat pertumbuhan lapangan pekerjaan. Hasilnya, sekitar 53 persen generasi milenial Afrika menjadi pengangguran,” sebut Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini mengulas setiap tahunnya rata-rata ada 3 juta penduduk Indonesia yang membutuhkan pekerjaan. Oleh sebab itu, ia memandang tanpa masuknya investasi, dunia usaha akan kesulitan menampung besarnya tenaga kerja tersebut. Atas pertimbangan tersebut, kata Bamsoet, pemerintah bersama DPR RI melahirkan UU Cipta Kerja.

“Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memproyeksikan pada tahun 2021 akan ada 3 juta tenaga kerja yang terserap secara langsung maupun tak langsung oleh investasi yang masuk ke Indonesia sebagai dampak lahirnya UU Cipta Kerja,” ungkap Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, selain tantangan jangka panjang berupa penyediaan lapangan pekerjaan, generasi muda juga dihadapi tantangan jangka pendek berupa pandemi COVID-19. Masyarakat didorong untuk menerapkan adaptasi baru yang mengubah pola hidup dan aktivitas keseharian, termasuk pada bidang sosial dan ekonomi.

“Dalam situasi dan kondisi tersebut, generasi muda dituntut berkontribusi pada upaya penguatan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat yang paling terdampak pandemi. Ada banyak cara, salah satunya adalah pemanfaatan kemajuan teknologi untuk membantu program pemerintah dalam penanganan dampak pandemi,” papar Bamsoet.

Kontribusi tersebut dapat dilakukan dengan menyediakan sarana sosialisasi pola hidup bersih dan sehat serta kampanye kepatuhan terhadap protokol kesehatan melalui platform media sosial. Cara lainnya bisa dengan melakukan terobosan guna mewujudkan efisiensi dan efektifitas penanganan dampak pandemi.

“Generasi muda juga dapat terjun langsung dan berpartisipasi dalam berbagai program penanganan dampak pandemi, misalnya melalui aksi-aksi sosial kemanusiaan. Gerakan pemberdayaan masyarakat juga dapat diwujudkan dengan memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM dan kelompok ekonomi kecil lainya, khususnya dalam hal pembangunan literasi teknologi yang sangat dikuasai generasi muda,” pesan Bamsoet.