Peneliti utama uji klinis vaksin Covid-19, Prof. Dr. Kusnandi Rusmil, mengklarifikasi soal relawan vaksin COVID-19 di Bandung yang terpapar virus korona.

Kusnandi Rusmil yang juga ketua tim uji klinis menyatakan, relawan tersebut pergi ke luar kota setelah mendapatkan “suntikan” yang tidak diketahui apakah suntikan tersebut berisi vaksin COVID–19 atau plasebo.

Penelitian uji klinis vaksin COVID-19 buatan Sinovac Biotech tersebut merupakan hasil kerja sama PT Bio Farma dan Fakultas Kedokteran Unpad. Uji klinis dibagi dua kelompok relawan, yakni kelompok relawan yang menerima vaksin COVID-19 dan kelompok yang menerima suntikan plasebo.

Setiap relawan tidak mengetahui apakah mendapat suntikan vaksin atau plasebo. Menurut Kusnandi, pada kunjungan suntikan kedua relawan tersebut sebenarnya sehat. Karena itu relawan sempat diberikan suntikan kedua.

Namun keesokan harinya, relawan tersebut menjalani program pemeriksaan swab nasofaring dari Dinas Kesehatan karena ada riwayat ke luar kota. Petugas kemudian melakukan pengambilan bahan dari apus hidung.

Bahan tersebut lalu dikirimkan ke laboratorium BSL2 (Dinas Kesehatan) dengan hasil positif. Hasil yang positif tersebut harus disampaikan kepada relawan yang bersangkutan.

Jadi, lanjut Kusnandi, relawan mengisolasi dirinya secara mandiri di bawah pemantauan ketat setiap harinya. “Selama 9 hari pemantauan kondisi relawan dalam keadaan baik. Kesimpulan hasil pemeriksaan apus hidung positif bukan berasal dari tim penelitian, tapi hasil dari program pemeriksaan swab nasofaring oleh pemerintah dan perlu dilanjutkan dengan pengawasan ketat,” terang Kusnandi, dalam keterangan resminya.

Kusnandi juga menggarisbawahi bahwa dalam uji klinis ini terdapat 2 kelompok yang disuntik plasebo dan vaksin. Uji klinis ini dilakukan dengan prinsip observer blind (tersamar), sehingga tidak diketahui mana yang dapat plasebo dan mana yang dapat vaksin.

Karena itulah semua sukarelawan uji klinis wajib menerapkan protokol pencegahan yang sudah dianjurkan pemerintah, seperti selalu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun atau sanitizer, serta menjaga jarak.

Untuk diketahui, lanjut Kusnandi, relawan yang mendapat vaksin baru akan mendapatkan kekebalan atau antibodi paling cepat 2 minggu pasca-suntik kedua. Penelitian ini memang melakukan penyuntikan dua kali setiap dua pekan sekali. 

Sukarelawan uji klinik lalu akan dipantau kesehatannya selama 6 bulan pasca-suntikan terakhir. “Uji klinis ini masih panjang jalannya, agar kita bersama-sama dapat menjaga privasi dari sukarelawan,” kata Kusnandi.